RASULULLAH SEORANG PENDIDIK

Salah satu hal yang wajib kita pelajari dari diri Rasulullah SAW ialah beliau sebagai seorang Pendidik

    Pernah kepikiran ga sih? Gimana caranya Rasulullah SAW bisa mendidik Umar bin Khattab hingga menjadi singa yang mampu mengaum keras hingga membuat lawannya bergidik. Murid yang setelah kepergiannya, bisa meluaskan Islam hingga lintas benua.

    Gimana caranya Rasulullah SAW mendidik Khalid bin Walid, hingga layak dinobatkan sebagai Pedang Allah langsung dari Arsy! Siswa yang setelah kepergiannya, selalu terdepan dalam pertempuran. Cerdas berstrategi, tajam merobek pertahanan lawan.

    Gimana caranya Rasulullah SAW mendidik Rib’I bin Amir, tentara kelas rendah perang Qadisiyyah, yang berani menginjak dan mengoyak-ngoyak sutra berhias permata dengan tombak dan kudanya, dihadapan Raja Persia. Meninggikan kehormatan Islam, menggetarkan lawan. Waw luar biasa bukan? Kalau prajuritnya saja seperti ini, lalu bagaimana dengan komandannya?

Satu rahasianya….

Rasulullah SAW selalu membuat sahabat-sahabatnya keluar dari zona nyaman

    Yap, kalau orangtuamu mendidikmu untuk selalu “menderita” maka bersyukurlah. Pengen ini itu harus usaha dulu, harus berprestasi dulu. Mau buat usaha, modalnya harus dikembalikan. Sekilas memang menyebalkan, tapi berkilas-kilas orangtua kita hanya ingin kita tumbuh dan berkembang.

Sama halnya dengan Rasulullah SAW, yang mendidik para sahabatnya dengan “penderitaan” leave comfort zone!

    25 tahun masa pendidikan, 27 kali perang. Makan tak pernah enak. Tidur beralaskan tikar, perang sambil ganjel perut pake batu. Perang konsumsinya 1 butir kurma diemut dari pagi sampe malem. Baru on the way ke lokasi perang aja, jalan sampai kakinya mengelupas, lalu kau kira ini semua kebetulan? Tentu tidak kawan, ini sungguh pendidikan.

    Iya betul, justru pendidikan seperti ini yang akhirnya memunculkan dan melejitkan seluruh potensi mereka. Pendidikan yang membuat ruhiyah mereka membara, kemampuan mereka paripurna, dan seluruh ilmunya bermakna.

    Kalau sampai hari ini, pendidikan yang kita ikuti masih penuh dengan kenyamanan, keluarlah! Nikmati samudera yang penuh gelombang, rasakan manisnya madu pengorbanan, hingga kelak Allah izinkan kita mengecap kenikmatan dalam keabadian.  

Komentar